Showing posts with label SKI. Show all posts
tradisi dan budaya Islam di Melayu
Sebagai tempat persinggahan, di Malaka banyak didirikan masjid-masjid, terutama di daerah pesisir. Masjid ini menjadi pusat pendidikan Islam dan menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan Islami dan membuat komunitas sendiri. “Tak hanya di pesisir Malaka, Islam kemudian merambah ke pedalaman hingga ke gunung-gunung di semenanjung Malaya ini,” kata Dien.
Penghubung antara daerah pesisir dan wilayah di pegunungan ini adalah sungai. Peran sungai kala itu menjadi sangat besar karena sebagai alat transportasi termudah untuk menjangkau daerah pedalaman, juga menjadi sarana penyebaran Islam.
Hingga kini, Islam melekat pada semua budaya orang Melayu. “Karena masyarakatnya homogen, jadi Islam mudah diterima, mudah disebarkan, dan menjadi kuat. Bahkan, Islam menjadi menjadi salah satu ‘ciri khas’ orang Melayu,” jelasnya.
Pengamat budaya Melayu, Mahyudin Al Yudra, mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat Islam begitu kuat mengakar pada jati diri orang Melayu, termasuk orang di Kesultanan Malaka. Islam adalah agama yang inklusif, sangat terbuka pada berbagai hal, yang masih menghargai tradisi yang berkembang di daerah tersebut. “Jadi, tidak langsung main embat dan memusnahkan budaya sebelumnya,” ujarnya.
Islam bisa mengakomodasi tradisi dan budaya lokal. Jika sebuah adat tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu akidah dan tauhid, adat tersebut bisa terus dilakukan. “Inilah mengapa masyarakat setempat bisa merasa enjoy dengan kedatangan Islam,” katanya.
Sifat egaliter dan populis yang dibawa oleh Islam juga disambut baik oleh penduduk setempat. Terutama, bagi yang sebelumnya menganut Hindu yang terpaku pada kasta. Ketika datang Islam dengan ajarannya bahwa di mata Allah semuanya sama, jelas ini menarik para penganut Hindu sebelumnya, terutama bagi yang tidak merasa nyaman dengan pembagian kelas sosial berdasarkan kasta tersebut.
Islam juga mengajarkan budaya tulis-menulis. Itulah mengapa Malaka menjadi pusat kebudayaan Islam yang banyak menghasilkan banyak buku, seperti ratusan ribu naskah dan manuskrip yang ditulis dengan Arab Melayu. Adanya tulisan Arab Melayu yang masih dipakai hingga kini membuktikan bahwa pendidikan menjadi satu hal yang penting dikembangkan dalam penyebaran Islam di Kesultanan Malaka.
Banyak bentuk akulturasi dan asimilasi antara Islam dan budaya sebelumnya yang menghasilkan sebuah budaya baru yang hingga kini dipakai dan disebut sebagai budaya Melayu. “Islam begitu menghegomoni masyarakat Melayu,” katanya
tradisi dan budaya Islam di Sunda
Abstract
Di era globalisasi ini arus perubahan budaya lintas negara sangat cepat terjadi. Di satu sisi sangat mengkhawatirkan dan satu sisi lain menggembirakan. Kekhawatiran tersebut dirasakan karena perubahan budaya bersifat Trans-Nasional akan mengubah struktur identitas budaya-budaya lokal yang sudah mapan digantikan dengan budaya yang lebih bersifat radikal, tanpa kompromi. Menggembirakannya adalah budaya lokal yang dapat bertahan dari hembusan badai yang menghadang dengan sangat kencang akan menjadi model dan contoh dari bangsa-bangsa lain untuk dapat belajar dari budaya kita. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana sebuah budaya lokal di Tatar Sunda (Jawa Barat) mampu berakulturasi dengan agama Islam yang dianut oleh masyarakat Sunda sebagai agama mayoritas menjadikan agama Islam dijalankan dalam aspek kehidupan berbaur dengan budaya setempat dengan mengakar kuat bahwa Islam adalah Sunda dan Sunda adalah Islam. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metodologi kualitatif. Digunakannya metode ini agar mudah menjelaskan (to eksplanation) suatu fenomena yang terjadi di masyarakat Tatar Sunda (Jawa Barat) dengan menggunakan kajian budaya dengan tahap heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.
References
Abdurrahman. (2004). Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademika Presindo.
Abdurrahman. (2015). Sunda the Islam. Bogor: Majelis Penulis.
Ekajati, E. S. (1984). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah Jilid I. Jakarta: Girimukti Pustaka.
Hurgronje, C. S. (1931). Mekka in the Latter Part of the 19th Century. (J. Monahan, Trans.) London: Luzac & Co.
Khaldun, I. (2000). Muqaddimah Ibnu Khaldun. (T. Ahmadie, Trans.) Jakarta: Pustaka Firdaus.
Musthafa, H. H. (2010). Adat Istiadat Sunda. Bandung: Penerbit Alumni.
Nina Herlina Lubis, d. (2011). Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.
Noer, D. (2000). The Modernist Muslim Movement in Indonesia: 1900-1942. Singapore : Oxford University Press.
Pals, D. L. (2012). Seven Theories of Religion. (I. R. Munzir, Trans.) Yogyakarta: IRCiSoD.
Raffles, T. S. (2015). The History of the Java. (E. Prasetyaningrum, Trans.) Jakarta: Narasi.
Ratna, N. K. (2010). Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya,. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rosidi, A. (1989). Kearifan Lokal dalam Persfektif Bahasa Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Suherman, Y. (1995). Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda. Bandung: Penerbit Pustaka.
Sujati, B. (2018). Sejarah Perkembangan Globalisasi dalam Dunia Islam. Jurnal Nalar, 2, 2, 105.
Suryanegara, A. M. (1995). Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.
Thohir, A. (2014). Sirah Nabawiyah; Nabi Muhammad SAW dalam Kajian Ilmu Sosial-Humaniora. Bandung: Marja.
Wanta. (1991). KH. Abdul Halim dan Pergerakannya: Buku Seri VI Ke-PUI-an. Majalengka: Majelis Penyiaran dan Penerangan dan Dakwah.
tradisi dan budaya Islam di Jawa
Di zaman postmodernisme, kita memahami bahwa masyarakat Jawa masih memiliki akulturasi yang tinggi terhadap nilai-nilai Islam. Adanya kebudayaan Jawa yang berkembang di daerah-daerah menunjukkan Islam menyebar di Indonesia melalui kultur kebudayaan. Kita dapat melihat di daerah sekitar Pantura seperti Jepara, Demak, Pati, Kudus, dan Rembang. Tradisi kebudayaan masyarakat Jawa di daerah ini masih sangat kental dengan budaya dan adat istiadat kejawen atau tradisional.
Seperti tradisi memberikan sedekah sering dilakukan oleh para keluarga Jawa pada tetangga sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan dengan cara bersama-sama di kediaman orang yang memiliki mempunyai hajat atau acara besar atau pada ketetapan hari-hari besar. Dengan mengumpulkan para tetangga dan diiringi dengan doa kepada Sang Maha Kuasa. Tradisi adat tersebut biasanya dilaksanakan masyarakat desa yang masih melestarikan adat kejawen yang dikenal dengan slametan (shodaqoh keselamatan).
Tradisi slametan menjadi simbolisasi masyarakat Jawa dalam menciptakan Islam kultural. Dakwah agama Islam yang diajarkan para Walisongo dalam menciptakan kerukunan bersikap secara santun dan toleran. Sehingga masyarakat Jawa banyak yang memeluk agama Islam lantaran corak dakwah para wali bersifat inklusif. Mafhum, masyarakat Jawa perlu masa transisi dari tradisi hinduisme menuju tradisi baru yaitu Islam Nusantara. Satu sisi mereka mempercayai dan mengakui kebenaran yang tersimpul dari ajaran-ajaran Islam, namun pada sisi lain mereka tetap mempercayai hal-hal yang berhubungan dengan tradisi warisan kebudayaan pra Islam yaitu Hindu-Budha. Mengutip keadaan tersebut sampai saat ini masih tetap eksis, meskipun sebagian masyarakat Jawa sudah tidak lagi memaknai sakralitas yang terdapat pada kebudayaan terdahulu.
Fakta sosialnya, tradisi Jawa tersebut menunjukkan adanya praktik keagamaan yang sering dijumpai adalah slametan. Salah satu adat istiadat yang dianggap sebagai ritual keagamaan dalam masyarakat Islam Jawa. Mengadakan upacara slametan terkadang diambil berdasarkan keyakinan keagamaan yang murni, akan tetapi terkadang hanya menjadi sebuah kebiasan rutin yang dijalankan dalam suatu adat keagamaan. Peristiwa itu menjadi kebiasaan rutin yang dapat diartikan dalam kehidupan keseharian masyarakat Jawa tradisional yang masih kental dengan kebiasaan lamanya. Masyarakat Jawa merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diikuti oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi, maupun agama. Hal ini dapat dilihat dalam keadaan masyarakat Jawa di sekitar kita yaitu dengan ciri kekerabatan antar sesama masyarakat.
Banyak sekali anak-anak di Jawa yang masih kental terhadap hukum adat yang ada di daerah. Misalnya dalam hal-hal tertentu setiap lelaki masih bekerja membantu kerabat dalam mengerjakan tanah pertanian, membuat rumah, memperbaiki jembatan, dan lain sebagainya. Kebudayaan yang mereka bangun merupakan serangkaian hidup tolong menolong antar warga.
Keadaan masyarakat di Jawa masih sangat terjalin keaslian dan kedamaian antar warga dan keluarga inilah yang menjadikan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan di masyarakat Jawa. Internalisasi kebiasaan yang berurutan dan sudah menjadi keyakinan mutlak bisa menjadikan sebuah tradisi yang awet. Tanpa latar belakang dari budaya luar pun, tipikal masyarakat Jawa masih ajeg dan inklusif akan tradisi yang dibawakan oleh nenek moyangnya.
Namun, perkembangan budaya saat ini mengalami pengaruh globalisasi. Akan tetapi tidak jarang masyarakat Jawa masih melestarikan tradisi untuk melestarikan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Paham Islam kultural memiliki akar yang kuat sehingga masyarakat masih menjalankan tradisi. Oleh karena itu, meskipun banyak dari masyarakat Jawa yang sudah masuk Islam, namun keaslian akan tradisi Jawa masih dijunjung sekali seperti tradisi slametan yang masih sering kita jumpai di setiap acara-acara penting kehidupan masyarakat Jawa.
Slametan diadakan pada setiap kesempatan peristiwa-peristiwa penting yang melibatkan masyarakat, keluarga, tetangga, dan sanak saudara. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa masyarakat yang rukun tanpa membedakan dari mana dan siapa mereka. Rukun yang berarti harmoni sosial dan ketentraman serta ketenangan bersama merupakan nilai sosial yang amat penting dalam kehidupan masyarakat desa.
Sebuah realitas yang unik ini merupakan pembumian akan tradisi lokal. Siapa yang tidak bangga dengan kultur yang dimiliki daerah Jawa yang masih sempat kita telurusi perkembangan dan keunikannya. Dengan memanfaatkan sedikit rezeki yang diberi Tuhan, kita bisa menyedekahkan apa yang kita punya melalui acara slametan. Meskipun bagi masyarakat Jawa masih banyak yang menggunakan yang mencampurkan dengan simbolis mistik kejawen seperti adanya kemenyan dan bunga-bungaan. Akan tetapi mereka masih tetap memasukkan unsur Islami dan memadukannya dengan adat Jawa tersebut. Jadi menurut saya, slametan bisa menjadi ajang untuk mengungkapkan rasa syukur pada Sang Kuasa dan menjadi ajang untuk bersedekah antar sesama umat muslim dalam menjaga persaudaraan.
perkembangan pesantren dalam dakwah Islam di Indonesia
RANGKUMAN
1. Pondok pesantren termasuk lembaga pendidikan yang sudah sangat lama ada di Indonesia sehingga begitu mengakar dengan budaya bangsa. Pondok pesantren memiliki karakter keislaman dan keaslian Indonesia. Maksudnya, sebagai lembaga pendidikan yang identik dengan keislaman sekaligus orisinal (berasal dari Indonesia) dengan ciri khas memiliki padepokan atau asrama untuk tempat tinggal peserta didik.
2. Secara istilah, pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan di mana peserta didik tinggal di asrama selama 24 jam untuk melaksanakan proses belajar-mengajar baik pendalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin) maupun keterampilan dan kecakapan hidup.
3. Pondok pesantren mempunyai komponen pokok sebagai berikut. Pertama, kiai (komponen sentral, yakni guru mengaji sekaligus pimpinan pondok). Kedua, santri (peserta didik). Ketiga, masjid/mushala (tempat ibadah dan pusat kegiatan di dalam pondok pesantren), Keempat, pondok/asrama (tempat tinggal para santri). Kelima, kitab kuning (materi pokok dalam kurikulum pendidikan pesantren). Keenam, metode pengajaran sorogan, bandongan, al-ijnul ijazah, halaqah, serta pola belajar di mana santri bisa mengetahui makna, kedudukan, dan fungsi masing-masing kalimat.
4. Data dari Kementerian Agama Republik Indonesia pada tahun 2006 menunjukkan ada 14.067 pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pondok pesantren secara kuantitatif mampu berkembang dan tetap menjadi kebutuhan bangsa Indonesia.
5. Beberapa pondok pesantren penting yang hingga kini masih berdiri di tanah air.
a. Pondok Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo, Jawa Timur
Didirikan oleh Kiai Ageng Hasan Basari pada abad ke-18. Di antara santrinya yang terkenal adalah Pakubuwono II (penguasa Kerajaan Kartasura), Raden Ngabehi Ronggowarsito (pujangga Jawa), serta H.O.S. Cokroaminoto (tokoh pergerakan nasional).
b. Pesantren Al-Hamdaniyah
Didirikan oleh K.H. Hamdani pada tahun 1787. Lokasi pesantren terletak di Desa Siwalan Panji, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy'ari, pernah menjadi santri di pondok pesantren ini.
c. Pondok Pesantren Sidogiri Pesantren ini berdiri pada tahun 1718. Pendirinya adalah Sayyid Sulaiman yang masih merupakan keturunan Rasulullah Saw. Lokasi pondok didirikan di area bekas hutan setelah babat alas.
d. Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar.
Pesantren ini bermula dari sebuah langgar (mushala) kecil yang didirikan oleh Kiai Itsbat Bin Ishaq sekitar tahun 1787. Di area pondok terdapat sumber mata air (sumur) cukup besar yang tidak pernah surut.
e. Pondok Tremas
Pondok ini didirikan oleh K.H. Abdul Manan pada tahun 1830 di daerah Semanten, Pacitan. Saat itu, materi yang diajarkan adalah kitab-kitab yang masih dalam tingkatan dasar.
f. Pondok Pesantren al-Huda
Pesantren ini dirintis pada tahun 1801 oleh K.H. Abdurrahman di atas tanah seluas 3.650 m2 di Kebumen. Para kiai dan santri pondok ini turut berjuang melawan tentara Belanda pada masa kemerdekaan serta melawan agitasi PKI pada tahun 1960-an.
g. Pondok Pesantren Buntet
Pesantren ini didirikan oleh Mbah atau Kiai Muqoyyim. Beliau sempat menjadi Mufti Keraton Kanoman Cirebon, tetapi kemudian mengundurkan diri dan mendirikan Pesantren Buntet yang terletak sekitar 12 kilometer dari Kota Cirebon pada tahun 1750.
h. Pondok Pesantren Subulussalam, Sayurmaincat
Lokasi pesantren ini berada di Desa Sayurmaincat, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Usia pesantren telah mencapai hampir satu abad. Pada masa kemerdekaan, pesantren ini dijadikan basis perlawanan sipil bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
i. Pondok Pesantren Darussalam Martapura
Pondok pesantren ini berlokasi di kawasan Pasayangan, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Pesantren didirikan pada tahun 1914 oleh K.H. Jamaluddin. Sebagai pesantren tertua di Kalimantan dan telah melahirkan banyak ulama. Pesantren Darussalam dijadikan acuan bagi perkembangan pesantren lain.
sejarah kerajaan Islam di pulau Sulawesi dan Maluku
kerajaan Islam di Maluku
1. Kerajaan Jailolo
Kerajaan Jailolo terletak di bagian pesisir utara pulau Seram dan sebagian Halmahera. Kerajaan ini termasuk ke dalam kerajaan tertua di wilayah Maluku. Menurut sejarah kerajaan Jailolo berdiri sejak tahun 1321 dan mulai masuk Islam setelah kedatangan mubaligh dari Malaka.
2. Kerajaan Ternate
Menurut sejarah kerajaan Ternate telah berdiri sekitar abad ke 13 Masehi. Kerajaan ini berada di Maluku Utara dan beribukotakan di Simpalu. Penyebaran Islam di kerajaan Ternate dipengaruhi oleh ulama-ulama dari Jawa, Arab dan Melayu.
Kemudian, kerajaan ini pun resmi memeluk Islam setelah raja Zainal Abidin belajar tentang Islam dari Sunan Giri pada tahun 1486 Masehi. Sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, maka banyak pedagang dari berbagai penjuru dunia yang singgah di wilayah Ternate.
3. Kerajaan Tidore
Kerajaan ini terletak di sebagian pulau Halmahera dan sebagian lagi di pulau Seram. Kerajaan Tidore memeluk Islam sekitar abad ke 15 Masehi. Cirali Lijitu merupakan sultan Tidore yang pertama kali memeluk agama Islam dan memiliki gelar Sultan Jamaludin.
Sultan Jamaludin memeluk Islam berkat seorang mubaligh bernama Syekh Mansyur. Kerajaan ini sendiri terkenal karena ekonomi perdagangan di sektor rempah-rempah. Menurut sumber sejarah, kerajaan Tidore kala itu memiliki persekutuan yang disebut dengan Ulisiwa yang terdiri atas wilayah Halmahera, Makyan, Kai, Jailolo serta pulau-pulau lainnya di wilayah sebelah timur Maluku.
4. Kerajaan Bacan
Kekuasaan kerajaan Bacan telah meliputi seluruh kepulauan Bacan, Obi, Waigeo, Solawati hingga di wilayah Irian Barat. Penyebaran agama Islam di kerajaan Bacan ini sendiri bermula ketika seorang Mubalig dari kerajaan Islam Maluku lainnya datang dan mulai menyebarkan Islam.
Adapun raja pertama dari kerajaan Bacan ini bernama Zainal Abidin. Ketika memimpin Kerajaan Bacan, Zainal Abidin pun mulai menerapkan ajaran dan aturan-aturan Islam di wilayah Kerajaan Bacan.
kerajaan Islam di Sulawesi
1. Kesultanan Buton
Kerajaan Kesultanan Buton merupakan kerajaan Islam yang terletak di Sulawesi Tenggara. Menurut sejarah, kerajaan ini telah lama berdiri bahkan sebelum agama Islam masuk ke wilayah Sulawesi. Kerajaan ini muncul pada awal ke 14 Masehi.
Kerajaan Kesultanan Buton ini sendiri awalnya memiliki corak agama Hindu Budha, akan tetapi seiring semakin berkembangnya agama Islam di wilayah Sulawesi, kerajaan ini pun kemudian berubah menjadi kerajaan bercorak Islam.
Kerajaan Buton menguasai banyak wilayah di kepulauan Buton termasuk di kawasan perairannya. Nama Buton memang sudah terkenal sejak zaman Majapahit. Bahkan dalam kitab Negarakertagama dan dalam Sumpah Palapa dari Gajah Mada, nama Buton sering sekali disebutkan. Hingga hari ini Kesultanan Buton tetap masih ada dan menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh banyak pelancong.
2. Kesultanan Banggai
Kerajaan Islam di wilayah Sulawesi selanjutnya ialah kerajaan Banggai. Kerajaan Banggai ini terletak di wilayah Semenanjung Timur pulau Sulawesi dan Kepulauan Banggai. Kesultanan Banggai telah lama berdiri yaitu sekitar abad ke 16 Masehi.
Hingga hari, Kerajaan Banggai masih tetap eksis dan selalu didatangi banyak pengunjung. Sebenarnya, Kerajaan ini juga pernah mengalami masa-masa keterpurukan akibat kalah dari kerajaan Majapahit. Namun, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, Kerajaan Banggai kembali bangkit dan menjadi kerajaan independen kembali serta telah bercorak Islam.
Kerajaan Gowa Tallo
Sesuai namanya, Kerajaan Gowa Tallo sebenarnya memang terdiri atas dua kerajaan yang menjalin persatuan atau persekutuan. Persatuan dua kerajaan besar di wilayah Sulawesi ini kemudian memberikan dampak yang begitu besar.
Kerajaan Gowa sendiri menguasai wilayah dataran tinggi, adapun untuk wilayah Tallo menguasai daratan pesisir. Pengaruh yang cukup kuat menjadikan dua persekutuan kerajaan ini sebagai kerajaan yang sangat berpengaruh pada jalur perdagangan di wilayah timur tanah air. Sejarah juga menyebutkan jika kerajaan Gowa Tallo ini telah berdiri sejak sebelum Islam masuk ke wilayah Sulawesi atau lebih tepatnya sekitar tahun 13 Masehi.
Kerajaan ini akhirnya bergabung menjadi bagian dari NKRI pada tahun 1946 dengan Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin sebagai raja terakhirnya.
2. Kerajaan Bone
Bila dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di wilayah Sulawesi, kerajaan Bone termasuk kerajaan yang cukup kecil. Karena posisinya sebagai kerajaan kecil maka saat itu kerajaan Bone sangat dipengaruhi oleh Kerajaan Gowa dan Tallo.
Kekuatan kerajaan Gowa Tallo memang sangat besar pada setiap kerajaan-kerajaan kecil kala itu. Oleh sebab itu, karena pengaruh dari kerajaan Gowa Tallo ini maka kerajaan Bone pun akhirnya menjadikan kerajaannya sebagai kerajaan yang bercorak Islam.
Agama Islam ini sendiri masuk ke kerajaan Bone pada masa pemerintahan Raja Bone XI atau sekitar tahun 1611 Masehi. Setelah itu, agama Islam pun makin tersebar karena dapat diterima dengan baik oleh masyarakat di wilayah kekuasaan kerajaan Bone.
3. Kerajaan Konawe
Kerajaan Konawe berada di wilayah Sulawesi Tenggara. Sebelum bercorak Islam, kerajaan ini awal mulanya merupakan kerajaan bercorak Hindu. Akan tetapi, seiring berkembangnya agama Islam di Konawe, sekitar tahun 18 Masehi, kerajaan Konawe pun secara perlahan mulai mengalami perubahan sistem pemerintahan dan pada akhirnya juga masuk menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Beberapa kerajaan yang telah disebutkan di atas merupakan sejumlah kerajaan Islam yang paling Berjaya di wilayah Sulawesi di masa lalu. Meskipun beberapa di antaranya ada yang telah runtuh akan tetapi beberapa kerajaan juga telah menjadi peninggalan budaya yang patut untuk tetap dijaga.
Sejumlah kerajaan Islam di wilayah Sulawesi ini menjadi bukti yang kuat bahwa pengaruh Islam di Sulawesi memang sangat berkembang dengan pesat. Ketika beberapa kerajaan masih memegang corak Hindu Budha, secara pelan tapi pasti, penyebaran agama Islam di Sulawesi mengambil alih corak Hindu Budha menjadi kerajaan yang bercorak Islam.
sejarah kerajaan Islam di pulau jawa
Kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara) dan Sejarahnya – Menurut berbagai sumber sejarah, agama Islam masuk pertama kalinya ke nusantara sekitar abad ke 6 Masehi. Saat kerajaan-kerajaan Islam masuk ke tanah air pada abad ke 13, berbagai kerajaan Hindu Budha juga telah mengakhiri masa kejayaannya.
Kerajaan Islam di Indonesia yang berkembang saat itu turut menjadi bagian terbentuknya berbagai kebudayaan di Indonesia. Kemudian, salah satu faktor yang menjadikan kerajaan-kerajaan Islam makin berjaya beberapa abad yang lalu ialah karena dipengaruhi oleh adanya jalur perdagangan yang berasal dari Timur Tengah, India, dan negara lainnya.
Semakin berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sekitar abad ke 13 juga didukung oleh faktor lalu lintas perdagangan laut nusantara saat itu. Banyak pedagang-pedagang Islam dari berbagai penjuru dunia seperti dari Arab, Persia, India hingga Tiongkok masuk ke nusantara.
Para pedagang-pedagang Islam ini pun akhirnya berbaur dengan masyarakat Indonesia. Semakin tersebarnya agama Islam di tanah air melalui perdagangan ini pun turut membawa banyak perubahan dari sisi budaya hingga sisi pemerintahan nusantara saat itu.
Munculnya berbagai kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang tersebar di nusantara menjadi pertanda awal terjadinya perubahan sistem pemerintahan dan budaya di Indonesia. Keterlibatan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia juga turut berperan dalam tersebarnya agama Islam hingga ke seluruh penjuru tanah air.
Dalam memahami sejarah dari kerajaan Islam yang ada di Nusantara, kamu dapat membaca buku Mengenal Kerajaan Islam Nusantara yang ada di bawah ini, karena berisi pengenalan tentang berbagai kerajaan Islam di Nusantara pada zamannya.
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berlokasi di Aceh
Beberapa kerajaan Islam tertua di tanah air yang menjadi bukti jejak peninggalan Islam dan masih bisa disaksikan hingga hari ini di antaranya ialah Kerajaan Perlak (840-1292), Kerajaan Ternate (1257), Kerajaan Samudera Pasai (1267-1521), Kerajaan Gowa (1300-1945), Kesultanan Malaka (1405-1511), Kerajaan Islam Cirebon (1430-1677), Kerajaan Demak 1478-1554), Kerajaan Islam Banten (1526-1813), Kerajaan Pajang (1568-1586), dan Kerajaan Mataram Islam (1588-1680).
Sebagai kerajaan Islam pertama, Kesutanan Samudra Pasai seringkali dikagumi oleh berbagai orang. Salah satunya adalah penjelajah dunia asal Italia Marco Polo yang dapat kamu baca pada buku Mneyusuri Kota Jejak Kejayaan Islam.
1. Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang terdapat di pulau Jawa. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah di tahun 1478. Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran agama Islam kala itu. Penyebaran Islam saat itu sangat dipengaruh oleh jasa para wali baik di pulau Jawa maupun yang berada di luar pulau Jawa seperti Maluku hingga ke wilayah Kalimantan Timur.
Di masa pemerintahan Raden Patah, kerajaan Demak mendirikan masjid yang kala itu juga dibantu oleh para wali ataupun sunan. Kemudian, kebudayaan yang berkembang di kerajaan Demak juga mendapat dukungan dari para wali terutama dari Sunan Kalijaga. Kehidupan masyarakat di sekitaran Kerajaan Demak juga telah diatur oleh aturan-aturan Islam tapi tetap tak meninggalkan tradisi lama mereka.
Pada masa kerajaan Islam di Jawa, terjadinya transformasi politik serta religius dari kerajaan Hindu-Buddha menuju kerajaan Islam di Jawa dan hal ini dapat kamu baca pada buku Genealogi Kerajaan Islam Di Jawa oleh P. Mardiyono.
2. Kerajaan Banten
Kerajaan Islam di Indonesia berikutnya adalah Banten yang berada di ujung pulau Jawa yaitu daerah Banten. Tanda penyebaran Islam di wilayah ini bermula ketika Fatahillah merebut Banten dan mulai melakukan penyebaran Islam. Islam tersebar dengan baik saat itu karena dipengaruhi oleh banyaknya pedagang-pedagang asing seperti dari Gujarat, Persia, Turki, dan lain sebagainya. Masjid Agung Banten menjadi salah satu hasil peninggalan Islam yang dibangun sekitar abad ke 16 Masehi.
3. Kesultanan Cirebon
Kesultanan Cirebon masuk sebagai kesultanan Islam ternama di wilayah Jawa Barat sekitar abad ke 15 dan 16 masehi. Wilayah Cirebon juga masuk dalam area strategis jalur perdagangan antar pulau.
Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Sebelum mendirikan kerajaan Cirebon, Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam terlebih dahulu di Tanah Pasundan. Beliau juga berkelana ke Mekkah dan Pasai. Sunan Gunung Jati juga berhasil menghapus kekuasaan kerajaan Padjajaran yang saat itu masih bercorak Hindu.
sejarah kerajaan Islam di pulau Sumatera
Sejarah Kerajaan Islam di Sumatera – Masuknya kerajaan-kerajaan Islam di tanah diperkirakan telah berlangsung sekitar abad ke 13 hingga abad ke 16. Maraknya perdagangan antara pedagang muslim dari berbagai daerah seperti Arab, Maroko, Persia, Tiongkok dan lain-lain menjadikan masyarakat Indonesia saat itu mudah berbaur dengan para pedagang muslim.
Kegiatan perdagangan ini makin membuat agama Islam tersebar dengan pesat hingga ke berbagai daerah seperti Jawa, Maluku, Sulawesi hingga Sumatra. Kehadiran agama Islam di nusantara juga mulai menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat kala itu. Aturan-aturan hidup yang berlandaskan nilai-nilai Islam mulai diimplementasikan dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat.
Proses masuknya Islam di Nusantara sebenarnya tidak tersiar secara bersamaan. Tiap daerah memiliki periode yang berbeda-beda saat Islam masuk di wilayahnya. Menurut para sejarawan Islam, Sumatera merupakan tempat yang menjadi awal mula masuknya Islam di nusantara.
Kemudian, masuknya agama Islam ke tanah air pada sekitar abad ke 6 tidak lepas dari pengaruh Syekh Kadir Jailani yang menyiarkan Islam saat itu. Pada periode pertama menyebarkan syiar agama Islam, beliau telah membawa banyak perubahan dan perkembangan di masyarakat nusantara.
Aspek budaya, sosial pemerintahan dan politik juga tersentuh dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan. Secara umum, perubahan besar itu terlihat jelas dari berdirinya berbagai kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di nusantara termasuk di wilayah Sumatera.
Kerajaan Jeumpa (777 M)
Kerajaan Jeumpa merupakan salah satu kerajaan Islam di nusantara yang muncul sekitar abad ke 7 M. Adapun pendiri dari kerajaan Jeumpa ini ialah Salman Al Parsi. Kerajaan Jeumpa menjadi tempat penyebaran pertama Islam untuk pertama kalinya di wilayah nusantara kala itu.
Penyebaran agama Islam di Kerajaan Jeumpa kala itu dipengaruhi oleh para pedagang muslim yang berasal dari Persia. Secara perlahan Kerajaan Jeumpa hingga para masyarakat pun memeluk Islam. Sekitar tahun 777 Masehi, kerajaan secara sepenuhnya menjadi kerajaan yang bercorak Islam.
Daerah cakupan Kerajaan Jeumpa mencakup Kabupaten Beureun. Masa keruntuhan Jeumpa terjadi sekitar tahun 880 M. Secara umum kerajaan Jeumpa menjadi kerajaan yang memiliki ramai penduduk. Adapun pusat pemerintahan dari Kerajaan Jeumpa ialah kota pelabuhan.
Kota ini termasuk sebagai tempat persinggahan dan perdagangan strategis di pulau Sumatera. Kerajaan Jeumpa juga masuk dalam jalur perdagangan dan pelayaran yang strategis di wilayah Selat Malaka. Wilayahnya yang strategis tersebut menjadikan masyarakat Kerajaan Jeumpa memilih berdagang.
Kawasan perdagangan Kerajaan Jeumpa terletak di wilayah pesisir utara Pulau Sumatera. Kerajaan Jeumpa juga telah menjalin hubungan kerja sama perdagangan dengan berbagai kerajaan-kerajaan yang ada di seluruh pulau Sumatera.
Selain dengan kerajaan-kerajaan di nusantara, Kerajaan Jeumpa juga telah memiliki kerja sama perdagangan dengan berbagai kerajaan dari wilayah Persia, Arab, India bahkan Tiongkok.
Dalam mempelajari berbagai kerajaan Islam di Nusantara yang ada, buku Mengenal Kerajaan Islam Nusantara hadir untuk memberikan penjelasan sejarah mengenai kerajaan yang ada sebagai wawasan serta karakter sebagai umat Islam.
Kesultanan Peureulak (840-1292)
Kesultanan Perlak merupakan salah satu Kerajaan Islam di wilayah Sumatera. Kesultanan Perlak juga terkenal akan daerahnya yang menghasilkan banyak kayu perlak. Kayu perlak sendiri merupakan jenis kayu yang sangat cocok dalam pembuatan kapal.
Oleh karena itu daerah ini terkenal dengan sebutan Kesultanan Perlak. Karena wilayahnya yang strategis serta memiliki hasil alam yang baik, menjadikan Perlak sebagai kawasan pelabuhan niaga yang berkemang pada abad ke 8 M.
Semakin ramainya transaksi perdagangan yang dilakukan oleh pedagang muslim dari Arab dan Persia menjadikan masyarakat di daerah Perlak semakin dekat dengan Islam. Berbagai perkawinan campur dengan saudagar muslim dan warga setempat juga menjadi faktor utama semakin meluasnya Islam.
Proses awal islamisasi sendiri berkaitan dengan adanya perdagangan serta pembentukan kerajaan dimana kronologi singkatnya dapat kamu temukan pada buku Islam dalam Arus Sejarah Indonesia oleh Jajat Burhanudin yang juga menjelaskan berbagai hal lainnya terkait perkembangan agama Islam di Indonesia.
beli sekarang
Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
Nama lain dari Kesultanan Samudera Pasai ialah Samudera Darussalam. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Islam yang terletak di bagian pesisir pantai utara Sumatera. Lokasinya berada di sekitar kota Loksumawe dan Aceh Utara.
Beberapa bukti sejarah yang mengaitkan keberadaan Kerajaan Samudera Pasai adalah ditemukannya beberapa makam raja serta berbagai penemuan koin berbahan emas dan perak yang berisikan nama-nama raja.
Kesultanan ini didirikan oleh Marah Silu yang memiliki gelar Sultan Malik As-Shaleh pada tahun 1267. Kerajaan Samudera Pasai Runtuh pada tahun 1521 ketika dikalahkan oleh bangsa Portugis.
Kesultanan Lamuri (800-1503)
Kesultanan Lamuri terletak di daerah Aceh Besar yang berpusat di Lam Reh, Kecamatan Masjid Raya. Kesultanan Lamuri merupakan kerajaan yang lebih dulu muncul sebelum berdirinya Aceh Darussalam.
Data mengenai keberadaan Kesultanan Lamuri ini didasarkan pada berita-berita luar yang selalu dikemukakan oleh para pedagang dan pelaut asing dari India, Arab dan China.
Kerajaan Linge (1025-sekarang)
Kerajaan Linge termasuk ke dalam kerajaan kuno yang terletak di Aceh. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1025 M atau 416 H di mana raja pertamanya ialah Adi Genali.
Adi Genali sendiri memiliki empat orang anak yaitu Empuberu, Sibayak, Linge, Merah Johan dan yang terakhir Merah Linge. Menurut sejarah, Raja Linge I mewariskan sebuah pedang dan sebentuk cincin pertama untuk keturunannya. Pedang dan cicin tersebut berasal dari Mahmud Syah.
Kerajaan Siguntur (1250-sekarang)
Kerajaan Siguntur merupakan kerajaan yang telah berdiri sejak tahun 1250 setelah runtuhnya kerajaan Dharmasraya. Setelah bertahan beberapa periode, Kerajaan Siguntur pun kemudian dikuasai oleh Kerajaan Pagaruyung.
Namun, para ahli waris istana kerajaan masih tetap diberikan gelar sultan. Hingga hari ini ahli waris yang melanjutkan jabatan raja Siguntur ialah Sultan Hendiri. Bahasa yang digunakan di lingkungan Kerajaan Siguntur ialah bahasa Minang dialek Siguntur yang memang memiliki kesamaan dengan dialek Payakumbuh.
Kesultanan Indrapura (1347-Sekarang)
Kerajaan ini adalah sebuah kesultanan yang berlokasi di Pesisir Selatan, Sumatra Barat serta berbatasan dengan Jambi dan Bengkulu. Secara resmi, kerajaan ini pernah menjadi bawahan Kerajaan Pagaruyung akan tetapi pada akhirnya kesultanan ini berdiri sendiri sehingga bisa mengatur sendiri urusan kerajaan tanpa campur tangan kerajaan Pagaruyung.
Kerajaan Pedir (1400-1524)
Kerajaan Pedir merupakan kerajaan kecil yang digambarkan terletak di wilayah dataran rendah. Wilayahnya luas serta subur sehingga para penduduknya hidup dengan makmur. Batas-batas kerajaan ini ialah sebelah timur wilayah kerajaan Samudera Pasai, kemudian bagian barat wilayah kerajaan Aceh Darussalam dan bagian selatan berbatasan dengan pegunungan serta di bagian utara berbatasan dengan Selat Malaka.
Kerajaan Daya (1480-Sekarang)
Dulu wilayah kerajaan ini terdapat hulu sungai Daya. Di tempat ini terdapat sebuah dusun Lhan Na dan dihuni oleh masyarakat yang belum beragama. Tak lama setelah itu masyarakat di sekitar hulu menjadi ramai dan berkembang karena berbagai pendatang menikah dengan penduduk asli hulu. Agama Islam mulai meluas di kerajaan ini setelah orang-orang dari Aceh besar dan Pasai datang ke kerajaan ini.
Kesultanan Aceh (1496-1903)
Kesultanan Aceh Darussalam termasuk juga sebagai kerajaan Islam yang berada di provinsi Aceh. Kesultanan Aceh berlokasi di utara pulau Sumatra yang beribu kotakan Banda Aceh Darussalam.
Adapun sultan pertama dari kerajaan ini Sultan Ali Mughayat. Selama berdirinya kerajaan Aceh, kesultanan ini fokus pada sistem pendidikan militer yang bertujuan untuk menentang imperialism bangsa Eropa.
Dengan adanya sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, kerajaan Aceh menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan serta menjadi sebuah kerajaan yang memiliki hubungan diplomatik dengan negara lain.
Kerajaan Sungai Pagu (1500-Sekarang)
Kerajaan ini telah ada sejak abad ke 16 di daerah Solok Selatan. Adapun nama lengkap dari kerajaan ini ialah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Kerajaan ini terletak di Pasir Talang dan wilayah Bandar Sepuluh.
Kerajaan ini memiliki wilayah dari Surian hingga rantau XII Koto. Hingga hari ini penerus tahta raja dari Sungai Pagu sedang vakum setelah wafatnya Almarhum Zulkarnain Daulat yang memiliki gelar Baginda Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah.
Kerajaan Bungo Setangkai
Kerajaan Bungo Setangkai merupakan kerajaan yang sudah lama berdiri di Minangkabau sebelum berdirinya Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan ini juga merupakan pecahan dari Kerajaan Pasumayan Koto Batu yang berada di Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar saat ini. Kerajaan ini sendiri diprakrasai oleh Datuk Ketumanggungan.
Kesultanan Jambi (1600-Sekarang)
Wiayah Jambi sebelumnya memang merupakan wilayah dari Kerajaan Melayu. Namun, setelah itu menjadi bagian dari wilayah Sriwijaya yang berada di Palembang. Sekitar abad ke 14 M, Jambi merupakan vassal dari kerajaan Majapahit.
Pengaruh Jawa saat itu juga masih sangat kental di dalam kerajaan Jambi yang berlangsung sekitar abad ke 17 dan ke 18. Munculnya kesultanan Jambi bersamaan dengan hadirnya Islam di wilayah tersebut.
Sekitar tahun 1616, Jambi menjadi pelabuhan terkaya setelah Aceh. Kemudian di tahun 1670, kerajaan Jambi mulai bersanding dengan kekuatan Kerajaan Johor dan Palembang. Sayangnya, masa kejayaan Jambi hanya seumur jagung. Di tahun 1680, Jambi telah kehilangan kedudukan sebagai pelabuhan lada utama karena adanya konflik internal dengan Johor.
Kesultanan Asahan (1630-Sekarang)
Kesultanan Asahan terletak di wilayah yang saat ini disebut sebagai kota Tanjung Bali, Kabupaten Asahan. Kerajaan ini telah berdiri sejak tahun 1630. Di tahun 1865 kerajaan Asahan mengalami kemunduran setelah ditaklukkan Belanda.
Di tahun 1946, Kesultanan Asahan masuk menjadi bagian negara Indonesia. Adapun raja pertama di kesultanan Asahan ini ialah Raja Abdul Jalil. Hingga abad ke 19, Asahan tetap berada di bawah Kesultanan Aceh.
Kesultanan Serdang (1723-Sekarang)
Pada tahun 1723 kerajaan Serdang mulai berdiri kemudian di tahun 1946 kerajaan ini pun masuk menjadi bagian dari negara RI. Kesultanan Serdang berpisah dengan Deli di tahun 1720 karena adanya sengketa tahta kerajaan. Kerajaan ini masuk sebagai kerajaan yang makmur karena majunya perkebunan kelapa sawit, tembakau dan karet di wilayahnya. Sayangnya, pada tahun 1865 Serdang ditaklukkan oleh Belanda.
Kesultanan Deli (1632-Sekarang)
Kesultanan Deli masuk sebagai Kesultanan Melayu dan didirikan sejak tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan. Lokasi kerajaan ini terletak di Tanah Deli atau di kota Medan saat ini. Kesultanan Deli masih ada hingga hari meskipun sudah tak memiliki kekuatan politik lagi setelah terjadinya perang dunia II dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Kesultanan Langkat (1568-Sekarang)
Kesultanan Langkat adalah sebuah kerajaan yang pernah memerintah wilayah kabupaten Langkat yang saat ini dikenal sebagai Sumatera Utara. Kesultanan langkat menjadi makmur setelah dibukanya wilayah perkebunan karet hingga ditemukannya cadangan minyak di wilayah Pangkalan Brandan.
Kesultanan Siak
Kesultanan Siak yang juga dikenal sebagai Kesultanan Siak Sri Indreapura merupakan sebuah kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di wilayah Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kesultanan Siak didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung dan bergelar Sultan Abdul Jalil di tahun 1723.
Kesultanan Palembang (1455-Sekarang)
Kesultanan Palembang merupakan sebuah kerajaan bercorak Islam dan berada di kota Palembang, Sumatera Selatan.
Kesultanan ini berada di bawah pimpinan Sri Susuhunan Abdurrahman, yaitu seorang bangsawan Palembang di tahun 1659. Kemudian di tahun 1823 pemerintah Belanda menghapuskan keberadaan Kesultanan Palembang.
Pelajari informasi lain mengenai Kesultanan Palembang pada buku Kesultanan Palembang dalam Pusaran Konflik yang di dalamnya memaparkan secara terperinci peristiwa, tokoh serta latar belakang internal dan juga eksternal.
beli sekarang
Kesultanan Riau Lingga(1824-1911)
Kesultanan Lingga yang bercorak Islam ini didirikan di wilayah Pulau Lingga. Kesultanan ini didirikan pada tahun 1824 yang merupakan pecahan wilayah Kesultanan Johor Riau.
Pendiri dari kerajaan ini ialah Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah. Pusat pemerintahan kesultanan Lingga awalnya terletak di Tanjung Pinang lalu kemudian dipindahkan ke pulau Lingga.
Kesultanan Kota Pinang (1630-1946)
Kesultanan Kota Pinang telah ada sejak tahun 1630 di area yang sekarang telah menjadi Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Kesultanan ini dikuasai oleh Belanda sekitar tahun 1837 dan kemudian masuk menjadi bagian negara Indonesia di tahun 1946.
Kesultanan Pelalawan (1725-1946)
Kesultanan Pelalawan telah ada sejak 1725 M hingga 1946 M. Kerajaan ini berada di wilayah kabupaten Pelalawan. Kerajaan ini pernah menguasai wilayah Melayu yang turut serta dalam pewarisan budaya Melayu dan Islam di wilayah Riau. Sebutan Tengkoe Besar adalah gelar untuk raja Pelalawan kala itu.
Kerajaan Indragiri (1347-1945)
Kerajaan Inderagiri menjadi kerajaan Melayu yang terletak di wilayah Kabupaten Indragilir Provinsi Riau. Sebelumnya, kerajaan ini menjadi bawahan dari Kerajaan Pagaruyung sekaligus kawasan pelabuhan. Setelah itu, Kerajaan Indragiri diperebutkan oleh Kesultanan Jambi, Siak dan Aceh.
Kerajaan Aru (1200-1613)
Kesultanan Aru juga dikenal dengan sebutan Haru yang merupakan kerajaan yang pernah berdiri di wilayah pantai Timur Sumatera Utara Sekarang. Nama kerajaan ini juga disebut-sebut dalam Sumpah Palapa Gadjah Mada.
Kesultanan Barus (1300-1858)
Kerajaan Barus berada di Tapanuli Tengah. Kesultanan ini didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah. Kesultnanan ini berakhir masa kejayaannya saat ditaklukkan Belanda di tahun 19 M.
Kerajaan Padang (1630-1946)
Kerajaan Padang masuk sebagai kerajaan Melayu yang bercorak Islam. Lokasi utama kerajaan Padang saat ini ialah di Tebing Tinggi.
Kerajaan Tamiang (1330-1558)
Kerajaan Tamiang juga dikenal dengan sebutan Benua Tunu yang merupakan kerajaan bercorak Islam di Aceh. Wilayah kerajaan ini memiliki perbatasan antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.
Kerajaan Tulang Bawang (1500-Sekarang)
Kerajaan Tulang Bawang merupakan sebuah kerajaan yang terletak di Lampung. Kerajaan ini berlokasi di wilayah Kabupaten Talang Bawang, Lampung sekarang. Tidak banyak catatan sejarah mengenai kerajaan ini.
Kepaksian Sekala Brak (1400-Sekarang)
Kerajaan ini merupakan kerajaan yang bercorak Islam dan terletak di wilayah Lampung. Menurut sejarah kedatangan Empat Umpu Ratu dari Pasai membuat kerajaan ini menjadi kerajaan yang bercorak Islam.
Kerajaan Dharmasraya
Nama Dharmasraya berasal dari nama ibu Kota di sebuah Kerajaan Melayu yang berada di Sumatera. Kerajaan ini mengalami masa kemundurannya setelah Kerajaan Sriwijaya di serang oleh Raja Chola dari Koromandel di tahun 1025.
Buku Terkait Kerajaan Islam di Sumatera
Buku Pintar Sejarah Islam
Buku Pintar Sejarah Islam
Beli Buku di Gramedia
Buku ini memaparkan sejarah Islam dan menjelaskannya dari sudut pandang Islam: sejak masa Nabi Muhammad, Khalifah Empat, Dinasti Umayah, Dinasti Abbasiyah, hingga masa kini; sejak muncul di Makkah hingga merekah di penjuru dunia. Tak hanya menyuguhkan catatan manis saat Islam tampil sebagai kekuatan yang mewarnai peradaban dunia, tapi juga saat Islam sebagai kekuatan politik mengalami kemunduran dan paceklik. Bagaimana Islam berkonfrontasi atau berasimilasi secara alami dengan bangsa dan budaya lain.
Lebih dari itu, melalui buku ini, kita tak hanya diajak menengok masa lalu, tapi menjadikan masa lalu sebagai cermin, memilah dan memilih yang relevan untuk menafsirkan masa kini dan untuk menjadi pijakan membangun masa depan. Sebab, sejarah tak hanya memaparkan peristiwa, tapi juga menjejakkan makna. Dikemas dalam deskripsi ringkas, inilah karya yang memudahkan kita mengetahui berbagai peristiwa sejarah dalam Islam dan mengingatnya dengan mudah.
Kronologi Sejarah Islam & Dunia
Kronologi Sejarah Islam & Dunia
Beli Buku di Gramedia
Tidak seperti buku sejarah Islam yang lain, cakupan Kronologi Sejarah Islam jauh lebih luas. Hampir semua entitas dan peristiwa sejarah kaum Muslimin dirangkumnya, termasuk yang paling anyar sekalipun (hingga akhir tahun 2016). Karena terbilang lengkap, buku ini dapat menjadi semacam buku pintar bagi peminat sejarah Islam.
Setiap babnya memaparkan suatu abad secara ringkas, lantas mengurutkan peristiwa bersejarah di dunia Islam pada abad itu secara kronologis, melalui table berkolom tiga : Tahun, Peristiwa Bersejarah, dan Kejadian Lain di Dunia. Di bagian akhir buku ini tersedia pula indeks nama yang semakin memudahkan penelusuran.
Dengan segala kelebihan dan kemudahan tersebut, rupanya inilah buku yang selama ini ditunggu-tunggu para penikmat sejarah Islam secara umum, dan para pengkaji Sejarah Peradaban Islam secara khusus.
penyebaran Islam dibeberapa wilayah Indonesia
Penyebaran Islam di Nusantara adalah proses menyebarnya agama Islam di Nusantara (sekarang Indonesia). Islam dibawa ke Nusantara oleh pedagang dari Gujarat, India selama abad ke-11, meskipun Muslim telah mendatangi Nusantara sebelumnya.[butuh rujukan] Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui jumlah penganut Hindu dan Buddhisme sebagai agama dominan bangsa Jawa dan Sumatra. Bali mempertahankan mayoritas Hindu, sedangkan pulau-pulau timur sebagian besar tetap menganut animisme sampai abad 17 dan 18 ketika agama Kristen menjadi dominan di daerah tersebut.
Penyebaran Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan di luar kepulauan Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar Nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi Islam. Kerajaan yang dominan, termasuk Kesultanan Mataram (di Jawa Tengah sekarang), dan Kesultanan Ternate dan Tidore di Kepulauan Maluku di timur. Pada akhir abad ke-13, Islam telah berdiri di Sumatra Utara, abad ke-14 di timur laut Malaya, Brunei, Filipina selatan, di antara beberapa abdi kerajaan di Jawa Timur, abad ke-15 di Malaka dan wilayah lain dari Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia). Meskipun diketahui bahwa penyebaran Islam dimulai di sisi barat Nusantara, kepingan-kepingan bukti yang ditemukan tidak menunjukkan gelombang konversi bertahap di sekitar setiap daerah Nusantara, melainkan bahwa proses konversi ini rumit dan lambat.
Meskipun menjadi salah satu perkembangan yang paling signifikan dalam sejarah Indonesia, bukti sejarah babak ini terkeping-keping dan umumnya tidak informatif sehingga pemahaman tentang kedatangan Islam ke Indonesia sangat terbatas. Ada perdebatan di antara peneliti tentang apa kesimpulan yang bisa ditarik tentang konversi masyarakat Nusantara kala itu.[1]:3 Bukti utama, setidaknya dari tahap-tahap awal proses konversi ini, adalah batu nisan dan beberapa kesaksian peziarah, tetapi bukti ini hanya dapat menunjukkan bahwa umat Islam pribumi ada di tempat tertentu pada waktu tertentu. Bukti ini tidak bisa menjelaskan hal-hal yang lebih rumit seperti bagaimana gaya hidup dipengaruhi oleh agama baru ini, atau seberapa dalam Islam mempengaruhi masyarakat. Dari bukti ini tidak bisa diasumsikan, bahwa karena penguasa saat itu dikenal sebagai seorang Muslim, maka proses Islamisasi daerah itu telah lengkap dan mayoritas penduduknya telah memeluk Islam; namun proses konversi ini adalah suatu proses yang berkesinambungan dan terus berlangsung di Nusantara, bahkan tetap berlangsung sampai hari ini di Indonesia modern. Namun demikian, titik balik yang jelas terjadi adalah ketika Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa dihancurkan oleh Kerajaan Islam Demak. Pada 1527, pemimpin perang Muslim Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa yang baru ditaklukkannya sebagai "Jayakarta" (berarti "kota kemenangan") yang akhirnya seiring waktu menjadi "Jakarta". Asimilasi budaya Nusantara menjadi Islam kemudian meningkat dengan cepat setelah penaklukan ini.
sejarah masuknya Islam ke Indonesia
Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia
May 9, 2016
Di Indonesia terkenal dengan penduduknya yang mayoritas memeluk agama islam, budaya nya, alamnya yang luas dan hasil bumi yang cukup banyak.
Sejarah masuknya islam awalnya di bawa oleh pedagang Gujarat lalu di ikuti oleh pedagang arab dan Persia. Sambil berdagang mereka menyebarkan agama islam ke tempat mereka berlabuh di seluruh indonesia.
Banyak yang berspekulasi jika islam masuk ke indonesia di abad ke 7 atau 8, karena pada abad tersebut terdapat perkampungan islam di sekitar selat Malaka.
Selain pedagang ada juga dengan cara mendakwah, seperti penyebaran di tanah jawa yang di lakukan oleh para walisongo. Mereka lah sang pendakwah dan sang ulama yang menyebarkan islam dengan cara pendekatan sosial budaya.
Di jawa islam masuk melalui pesisir utara pulau jawa dengan di temukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah. Di Mojokerto juga telah di temukannya ratusan makam islam kuno. Di perkikan makam ini adalah makam para keluarga istana Majapahit.
Di kalimantan, islam masuk melalui pontianak pada abad 18. Di hulu sungai Pawan, kalimantan barat di temukan pemakaman islam kuno. Di kalimantan timur islam masuk melalui kerajaan Kutai, di kalimantan selatan melalui kerajaan banjar, dan dari kalimantan tengah di temukannya masjid gede di kota Waringin yang di bangun pada tahun 1434 M. Di sulawesi islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo.
Demikian sedikit penjelasan tentang sejarah islam masuk ke indonesia. Kita harus bangga dengan para ulama yang telah menyebarkan agama islam di indonesia tanpa adanya perang. Dengan peran para ulama yang bijaksana, agama islam dengan mudah di terima di seluruh nusantara.
kerajaan islam di Maluku
Islamisasi di kepulauan Maluku dimulai pada awal abad 14 Masehi. Dalam buku Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia (2012) karya Daliman, proses penyebaran agama Islam di Maluku tidak bisa terlepas dari peran ulama dan mubalig Jawa.
Sunan Giri pada tahun 1486 memperkenalkan Islam kepada Raja Ternate bernama Zainal Abidin. Raja tersebut mendapatkan ajaran Islam dari pesantren Sunan Giri.
Pesatnya perkembangan Islam di Maluku membuat kerajaan-kerajaan di Maluku turut memeluk Islam. Maluku memiliki empat kerajaan besar Islam yaitu Jailolo, Ternate, Tidore dan Bacan.
Kerajaan Jailolo
Kerajaan Jailolo merupakan kerajaan tertua di Maluku. Kerajaan ini terletak di pesisir utara pulau Seram dan sebagian Halmahera. Kerajaan Jailolo berdiri sejak 1321 dan mulai memeluk Islam setelah kedatangan mubaligh dari Malaka.
Kerajaan Ternate
Kerajaan Ternate berdiri pada sekitar abad 13 Masehi. Kerajaan ini terletak di Maluku Utara dan memiliki ibukota di Sampalu.
Islamisasi di kerajaan Ternate dilakukan oleh ulama-ulama dari Jawa, Melayu dan Arab. Kerajaan Ternate resmi memeluk Islam setelah raja Zainal Abidin belajar Islam oleh Sunan Giri pada tahun 1486 Masehi.
Corak ekonomi kerajaan Ternate adalah perdagangan rempah-rempah. Kerajaan ini merupakan produsen utama rempah-rempah dengan kualitas terbaik.
Kerajaan Ternate sering disinggahi oleh pedagang rempah-rempah dari Jawa, Cina dan Timur Tengah. Kerajaan Ternate juga mengembangkan kota pelabuhan sebagai pusat aktivitas dagang rempah-rempah
Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore terletak di sebagian pulau Halmahera dan sebagian pulau Seram. Kerajaan Tidore mulai memeluk Islam pada sekitar akhir abad 15 Masehi.
Sultan Tidore yang pertama kali masuk Islam adalah Cirali Lijitu yang bergelar Sultan Jamaludin. Sultan Jamludin masuk Islam berkat jasa dari seorang mubaligh bernama Syekh Mansyur
Kerajaan Islam Pertama di Indonesia
Kerajaan Islam Pertama di Indonesia
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berlokasi di Aceh
Beberapa kerajaan Islam tertua di tanah air yang menjadi bukti jejak peninggalan Islam dan masih bisa disaksikan hingga hari ini di antaranya ialah Kerajaan Perlak (840-1292), Kerajaan Ternate (1257), Kerajaan Samudera Pasai (1267-1521), Kerajaan Gowa (1300-1945), Kesultanan Malaka (1405-1511), Kerajaan Islam Cirebon (1430-1677), Kerajaan Demak 1478-1554), Kerajaan Islam Banten (1526-1813), Kerajaan Pajang (1568-1586), dan Kerajaan Mataram Islam (1588-1680).
Sebagai kerajaan Islam pertama, Kesutanan Samudra Pasai seringkali dikagumi oleh berbagai orang. Salah satunya adalah penjelajah dunia asal Italia Marco Polo yang dapat kamu baca pada buku Mneyusuri Kota Jejak Kejayaan Islam.
Kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara) dan Sejarahnya
Kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara) dan Sejarahnya –
Menurut berbagai sumber sejarah, agama Islam masuk pertama kalinya ke nusantara sekitar abad ke 6 Masehi. Saat kerajaan-kerajaan Islam masuk ke tanah air pada abad ke 13, berbagai kerajaan Hindu Budha juga telah mengakhiri masa kejayaannya.
Kerajaan Islam di Indonesia yang berkembang saat itu turut menjadi bagian terbentuknya berbagai kebudayaan di Indonesia. Kemudian, salah satu faktor yang menjadikan kerajaan-kerajaan Islam makin berjaya beberapa abad yang lalu ialah karena dipengaruhi oleh adanya jalur perdagangan yang berasal dari Timur Tengah, India, dan negara lainnya.
Semakin berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sekitar abad ke 13 juga didukung oleh faktor lalu lintas perdagangan laut nusantara saat itu. Banyak pedagang-pedagang Islam dari berbagai penjuru dunia seperti dari Arab, Persia, India hingga Tiongkok masuk ke nusantara.
Para pedagang-pedagang Islam ini pun akhirnya berbaur dengan masyarakat Indonesia. Semakin tersebarnya agama Islam di tanah air melalui perdagangan ini pun turut membawa banyak perubahan dari sisi budaya hingga sisi pemerintahan nusantara saat itu.
Munculnya berbagai kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang tersebar di nusantara menjadi pertanda awal terjadinya perubahan sistem pemerintahan dan budaya di Indonesia. Keterlibatan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia juga turut berperan dalam tersebarnya agama Islam hingga ke seluruh penjuru tanah air.
Dalam memahami sejarah dari kerajaan Islam yang ada di Nusantara, kamu dapat membaca buku Mengenal Kerajaan Islam Nusantara yang ada di bawah ini, karena berisi pengenalan tentang berbagai kerajaan Islam di Nusantara pada zamannya.
sejarah kerajaan Islam di pulau Sumatra
kerajaan Islam di pulau Sumatra
– Masuknya kerajaan-kerajaan Islam di tanah diperkirakan telah berlangsung sekitar abad ke 13 hingga abad ke 16. Maraknya perdagangan antara pedagang muslim dari berbagai daerah seperti Arab, Maroko, Persia, Tiongkok dan lain-lain menjadikan masyarakat Indonesia saat itu mudah berbaur dengan para pedagang muslim.
Kegiatan perdagangan ini makin membuat agama Islam tersebar dengan pesat hingga ke berbagai daerah seperti Jawa, Maluku, Sulawesi hingga Sumatra. Kehadiran agama Islam di nusantara juga mulai menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat kala itu. Aturan-aturan hidup yang berlandaskan nilai-nilai Islam mulai diimplementasikan dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat.
Proses masuknya Islam di Nusantara sebenarnya tidak tersiar secara bersamaan. Tiap daerah memiliki periode yang berbeda-beda saat Islam masuk di wilayahnya. Menurut para sejarawan Islam, Sumatera merupakan tempat yang menjadi awal mula masuknya Islam di nusantara.
Kemudian, masuknya agama Islam ke tanah air pada sekitar abad ke 6 tidak lepas dari pengaruh Syekh Kadir Jailani yang menyiarkan Islam saat itu. Pada periode pertama menyebarkan syiar agama Islam, beliau telah membawa banyak perubahan dan perkembangan di masyarakat nusantara.
Aspek budaya, sosial pemerintahan dan politik juga tersentuh dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan. Secara umum, perubahan besar itu terlihat jelas dari berdirinya berbagai kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di nusantara termasuk di wilayah Sumatera.
Peranan pesantren dalam da'wah Islam
PERANAN PESANTREN DALAM DA’WAH ISLAM
Istilah pondok pesantren terdiri dari dua kata yaitu pondok dan pesantren. Pondok berarti tempat tinggal, atau juga berasal dari Bahasa arab funduq yang berarti asrama, Adapun pesantren berasal dari kosakata lokal, yaitu cantrik yang bermakna siswa atau peserta didik.
Secara istilah, pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dimana peserta didik tinggal di asrama selama 24 jam untuk melaksanakan proses belajar-mengajar baik pendalaman ilmu agama maupun keterampilan dan kecakapan hidup.
Suatu tempat bisa dikatakan sebagai pondok pesantren jika setidaknya memiliki 5 unsur yaitu :
Merupakan unsur yang paling penting suatu pondok pesantren. Seorang kyai atau ulama ini ibaratkan jantung di sebuah pesantren karna dapat berperan sebagai pendiri, pengelola, pengasuh, pemimpin, bahkan bisa juga pemilik sebuah pondok pesantren.
Adalah tempat utama bagi perkembangan islam sejak awal, karena itu keberadaan masjid tidak bisa diabaikan. Masjid berperan sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar.
MUNCULNYA KERAJAAN DEMAK
Sebelum Demak muncul sebagai kerajaan Islam, wilayahnya masuk dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit, sehingga penduduknya banyak yang menganut agama Hindu atau Buddha. Kerajaan Demak ini didirikan oleh Raden Patah, putra Prabu Brawijaya, penguasa terakhir Kerajaan Majapahit pada sekitar tahun 1478. Raden Patah membangun Kerajaan Demak dengan bantuan para Wali Sanga, termasuk gurunya, Sunan Ampel. Kesultanan Demak terbukti menjadi kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa yang mendorong perkembangan Islam yang diajarkan oleh para wali. Pada abad ke-16, Jepara, Kudus, Pati, Juwana, dan Rembang menjadi pusat perniagaan laut dan pelabuhan penting bagi Kerajaan Demak, sehingga memungkinkan penyebaran Islam semakin masif. Keberadaan kerajaan Demak juga membantu para wali untuk mensosialisasikan Islam hingga ke daerah pedalaman hingga di Jawa Tengah bagian selatan. Upaya islamisasi di daerah pedalaman biasanya dilakukan oleh para mubaligh penerus wali yang bersifat lokal. Di antara para wali yang bersifat lokal tersebut adalah Sunan Gesang di Magelang dan Sunan Bayat di Klaten. Pada masanya, rakyat Jawa Tengah dapat hidup makmur dan damai di bawah kekuasaan Kesultanan Demak. Hukum yang diterapkan pada masa itu juga berlandaskan syariat Islam